Saturday, 16 March 2019

Debat Cawapres, Kiai Maruf Amin akan Soroti Lembaga Pendidikan Berbasis Agama

Debat Cawapres, Kiai Maruf Amin akan Soroti Lembaga Pendidikan Berbasis Agama


Meski sudah tua, Cawapres nomor urut 01 KH. Maruf Amin dipastikan siap untuk menghadapi debat ketiga Pilpres 2019. Kiai Ma'ruf akan menjawab lugas segala macam 'serangan' dari lawannya.

Hal ini karena Kiai Maruf sudah menjalani serangkaian persiapan, baik dari segi materi, manajemen waktu, hingga taktik debatnya nanti. 

Dari segi materi, Mantan Rais 'Aam PBNU ini memiliki perhatian yang besar pada isu pendidikan yang berbasis keagamaan. 

Misalnya, dalam Islam ada pesantren, ada madrasah diniyah. Mungkin kalau yang Kristiani seperti sekolah minggu, dan agama lainnya. Hal itu juga akan menjadi materi bahasan.

Kemudian terkait perencanaan untuk menaikkan anggaran pendidikan pesantren, madrasah, dan kesejahteraan guru juga turut menjadi topik pembahasan. 

Dengan posisi seperti itu, Kiai Maruf tentu lebih diuntungkan. Kita yakin melalui program yang ditawarkannya tersebut akan dapat menarik suara para santri. 

Apalagi latar belakang beliau adalah seorang ulama sepuh dan dari NU sehingga menjadi daya tarik para santri untuk memilih. Keinginan para santri agar pemerintah membuat pesantren lebih modern dan lebih bermanfaat bagi Indonesia akan segera terwujud. 

Hal itu berbeda dengan posisi lawannya, Sandiaga Uno. Ia yang pernah mengaku menjadi seorang santri, tentu saja tak pantas untuk berdebat dengan seorang kiai. 

Seorang santri harusnya justru mengikuti pesan dan anjuran dari para kiai, termasuk dari KH. Maruf Amin. 

Mari kita dukung gagasan bernas untuk menuju Indonesia Maju. Bagaimanapun, dengan segala upayanya, Kiai Maruf sedang berikhtiar untuk membawa bangsa ini lebih baik. 

Mari #IkutKyai

Prabowo Merakyat? Itu Bohong! Ini Buktinya

Prabowo Merakyat? Itu Bohong! Ini Buktinya


Bila ada yang mengatakan Prabowo itu sederhana dan merakyat, maka itu jelas bohong. Karena kelakuannya sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut. 

Baru-baru ini, Capres 02 Prabowo Subianto tertangkap kamera bersalaman mengenakan sarung tangan saat menyapa pendukungnya di Jambi pada Kamis (14/3). Ia mengaku mengenakan itu agar tangannya tidak terluka. 

DI lain kesempatan, Prabowo juga agak jijik bila harus bersalaman dengan warga biasa pendukungnya. Dengan berdiri di atas mobil, Prabowo terkesan angkuh dan tak mau menyalami mereka. 

Beberapa kejadian di atas menunjukan sisi pribadi Prabowo yang sebenarnya. Dia sebenanya memang "anak gedongan" yang tak mau bersentuhan langsung dengan rakyat. Mungkin baginya rakyat itu kotor.

Prabowo sepertinya jijik jika harus bersalaman secara langsung dengan pendukungnya. Ia takut tangannya lecet atau kotor, sebab pendukung yang minta salaman tampangnya tampang miskin jadi enggak selevel. 

Apakah mungkin jika calon pemimpin seperti ini bakal memikirkan nasib rakyat kecil? Bersentuhan dengan rakyat pun ia tidak mau.

Tetapi kita tidak boleh su'udzon dulu. Bisa jadi keengganan Prabowo untuk bersalaman itu karena dirinya abis berak dan ceboknya tidak terlalu bersih, jadi ia sungkan mau bersalaman dengan rakyat.

Tapi sepertinya kemungkinan itu kecil sekali. Yang pasti adalah perasaan Prabowo yang lebih tinggi bak raja di hadapan rakyat. 

Kita harus pahami bahwasanya karakter seseorang itu tidak akan terlihat dari perkataan atau klaim semata, melainkan dari tindakan. Pencitraan atau bukan, semuanya akan terbukti dari tingkah laku seseorang. 

Dengan perilaku seperti di atas, kita bisa katakan bahwa Prabowo bukanlah sosok kandidat Presiden yang merakyat. Ia justru jijik dengan rakyatnya sendiri. Masa' seperti ini akan dipilih Bro?

Friday, 15 March 2019

Capaian Positif Pemerintahan Presiden Jokowi di Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Perlindungan Sosial

Capaian Positif Pemerintahan Presiden Jokowi di Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Perlindungan Sosial


Selama 4 tahun ini, banyak hal yang sudah dikerjakan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pun begitu dengan kemajuan yang sudah dicapai, terutama di bidang pembangunan manusia seperti pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial. 

Kita bisa melihat keberpihakan pemerintahan Presiden Jokowi pada aspek pembangunan manusia tersebut dari segi anggarannya. Sebab, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) selama 4 tahun ini ada peningkatan anggaran pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial secara signifikan. 

Untuk anggaran pendidikan pada 2014 sebesar Rp.126,31 T naik menjadi Rp.162,56 pada 2018. Sementara anggaran kesehatan pada 2014 sebesar Rp.49,38 T di 2018 naik menjadi Rp.65.01 T. Untuk bidang perlindungan sosial di tahun 2014 sebesar Rp.120,34 T pada 2018 naik menjadi Rp.162,56 T.

Kenaikan anggaran di atas berdampak positif pada capaian yang dihasilkan. Ada berbagai kemajuan pembangunan manusia dari segi pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial. 

Misalnya, dari segi pendidikan, perkembangan pendidikan vokasi telah membuahkan hasil. Perbaikan kualitas pendidikan vokasi Indonesia kini telah diakui dunia internasional dan industri. 

Ini tercermin dari jumlah BLK berkualifikasi baik pada 2015 adalah 69 dan meningkat di tahun 2018 menjadi 102 BLK. Jumlah SDM industri kompeten dan bersertifikat yang terserap di dunia kerja pada tahun 2015 sebanyak 22.478 orang meningkat pada 2018 menjadi 55.300 orang.

Kemudian, dalam bidang perlindungan sosial, penerima PKH terus meningkat, dari 3,51 juta rumah tangga pada tahun 2015 menjadi 9.877 pada 2018. Capaian Kartu keluarga sejahtera 9,8 juta keluarga dari target 10 juta, sedangkan Kartu Indonesia Sehat capai 92,2 juta orang dari target 92,4 juta orang. Sementara itu, Kartu Indonesia Pintar capai 13,2 juta siswa.

Berikutnya, jumlah penerima KIS yang dibebaskan dari iuran sebanyak 92.244.075 orang per Oktober 2018. Peserta JKN pun terus meningkat dari 156,79 juta jiwa pada 2015 menjadi 203,28 juta jiwa pada Oktober 2018.

Selain itu, sertifikasi profesi guru meningkat dari 1.642 orang di tahun 2015 menjadi 1,726 orang di tahun 2017. Jumlah guru garis depan 9.161 orang, sementara guru keahlian ganda sebanyak 4.584 orang.

Dengan seluruh capaian di atas, kita bisa mendapati adanya perbaikan mutu kehidupan manusia Indonesia. Ini adalah salah satu usaha untuk mendorong agar Indonesia menjadi negara maju.

Kita seyogianya mengapresiasi kemajuan di atas. Salah satunya dengan melanjutkan pemerintahan Jokowi sekali lagi.

Monday, 11 March 2019

Kampanye Sepi, Sandiaga Uno Joget-Joget Sendiri

Kampanye Sepi, Sandiaga Uno Joget-Joget Sendiri


Belakangan ini, video cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno yang berjoget sendiri sedang viral. Begitulah cara "sang juragan" untuk menghibur diri. 

Hal itu terjadi lantaran kampanye yang digelarnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) sepi peminat. Terlihat hanya beberapa orang saja yang datang. 

Karena itu, demi mencari sensasi maka Sandi berjoget-joget sendiri. Sebuah kelakuan yang tak pantas secara etika dan estetika bagi seorang cawapres. 

Tindakan tersebut menunjukkan bahwa dirinya sedang berupaya menarik perhatian dengan cara yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang calon negarawan. 

Baginya, tindakan bodoh itu perlu dilakukan saat posisinya semakin terhimpit kekurangan pendukung di beberapa daerah. 

Kenyataan di atas menegaskan bahwa Sandiaga Uno memang kehilangan pendukungnya. Masyarakat banyak tak memilihnya karena dia sendiri tak memiliki program yang jelas untuk memimpin Indonesia kelak. 

Ditambah beberapa program yang dicanangkannya di DKI Jakarta juga macet. Sandi gagal mewujudkan program-program itu, seperti OKE OCE, DP 0 persen, dan mengurangi banjir 

Anehnya, beberapa program itu justru diusung lagi dalam Pilpres 2019 ini. Teran saja, masyarakat tak mau mengikuti kegagalannya di Jakarta. 

Bila program itu saja gagal di provinsi, bagaimana logikanya akan diterapkan untuk wilayah setingkat nasional. Loginya pasti akan semakin amburadul. 

Masyarakat sekarang sudah cerdas. Mereka bisa membedakan mana kandidat yang berkualitas emas, atau hanya seorang calon pemimpin berkualitas kardus.

3 Kampanye Hitam untuk Jokowi-Maruf Amin, dan Cara Pembenaran Gerindra Cs

3 Kampanye Hitam untuk Jokowi-Maruf Amin, dan Cara Pembenaran Gerindra Cs


Menjelang babak akhir pertarungan Pemilihan Presiden, setidaknya sudah ada tiga kali kampanye hitam yang menyasar kubu Jokowi-Maruf. 

Diantaranya, dua pertama dilakukan oleh oknum emak-emak di Karawang dan Makasar. Dan yang ketiga adalah kampanye hitam dengan kondom.

Dari seluruh kampanye hitam itu, kubu 02 terlihat tidak pernah memikirkan konsekuensi hoaks dan fitnah yang sengaja dilakukan untuk menjatuhkan kubu 01. 

Parahnya, mereka selalu menampik dan mencari pembenaran atas penyebaran kampanye hitam itu. Itu pun dengan cara yang tidak masuk akal. 

Bayangkan saja, Gerindra mudah sekali mengatakan tidak mengenal emak-emak penyebar fitnah di Karawang. Padahal penyebar isu sesat soal pelarangan azan dan pernikahan sejenis itu adalah relawan resminya. 

Kemudian, Waketum Gerindra, Arief Poyuono juga membantah dengan cara yang masuk akal. Katanya, hal itu adalah sosialisasi pemerintahan Jokowi untuk menanggulangi penyakit kelamin, dan mencegah kontrasepsi.

Mereka selalu berkilah agar tidak dipersalahkan padahal semua orang tahu bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh Prabowo-Sandi. Setidaknya oleh para pendukungnya.

Di sisi lain, masyarakat juga sebenarnya mengecam cara kotor dalam berpolitik itu. Koordinator Nasional Muda-Mudi Indonesia (MMI) Hudan Himura bahwa beredarnya foto kondom bergambar Jokowi-Maruf itu adalah cara yang keji dan biadab. 

Kampanye hitam semacam ini telah merusak citra Jokowi-Maruf Amin, dimana berdampak pada rusaknya moral dan bangsa. 

Adanya kampanye hitam tersebut adalah wujud penyudutan kandidat petahana yang paralel dengan adanya hoaks dan fitnah. 

Diakui atau tidak, hal itu adalah bukti sudah tidak memiliki cara lain untuk mengalahkan Jokowi. Sehingga bertindak keterlaluan dengan menggunakan cara kampanye hitam. 

Untuk itulah, kita jangan mudah percaya dengan kampanye hitam tersebut. Hal itu adalah cara sesat untuk menang Pemilu dengan menghalalkan segala cara. 

Yakin mau dipimpin oleh 02?

Program Pra-Kerja Konkret, Oposisi Hanya Bisa Mengkritik tanpa Alternatif

Program Pra-Kerja Konkret, Oposisi Hanya Bisa Mengkritik tanpa Alternatif


Dalam musim kampanye ini, pasangan capres-cawapres Jokowi dan KH. Maruf Amin menggagas adanya 3 Kartu Baru, diantaranya adalah Kartu Pra-Kerja. 

Hal ini dianggap sebuah program yang konkret dan nyata. Apalagi dibandingkan dengan lawannya, yang mana kubu oposisi hanya bisa mengkritik dengan hitam putih.

Sebelumnya, politisi PKS Fahri Hamzah, misalnya, menyebut Kartu Pra-Kerja tidak masuk akal karena menurut dia tidak ada dana untuk membiayai program ini.

Waketum Gerindra Fadli Zon bahkan menyebut Kartu Pra-Kerja ini impian kosong, politis, dan norak.

Padahal, kalau dipikir-pikir apa yang digagas oleh Jokowi itu sudah cukup baik. Programnya konkret dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sedangkan lawannya tidak sepadan. Seharusnya dalam mengkritik kubu petahana, pendukung 02 lebih mengajukan gagasan yang lebih brilian dan rasional. 

Sebaliknya, mereka justru mengajukan program yang irasional, seperti menjanjikan program 100 hari kerja, namun tak memiliki basis argumentasi yang detail. 

Ia selalu berlindung di bawah narasi besar tapi tak ada gagasannya yang menyentuh bumi karena lebih mengedepankan retorika yang kering dan hitam-putih. 

Sebagai oposisi, kubu 02 payah. Mereka selalu menggunakan logika bahwa semua yang dikerjakan oleh petahana itu selalu buruk dan salah. 

Tetapi mereka sendiri gagal menawarkan solusi alternatif. 

Sehingga, daripada hanya bisa mengkritik, lebih baik apa yang dikerjakan oleh pemerintah. Meskipun ada kurangnya, tetapi lebih konkret.

Tak Bisa Shalawat, Prabowo Menolak Duet bersama Nissa Sabyan

Tak Bisa Shalawat, Prabowo Menolak Duet bersama Nissa Sabyan 


Baru-baru ini, kabar Prabowo menolak bershalawat bersama dengan Nissa Sabyan ramai dibicarakan publik. 

Hal itu bukan karena suaranya jelek, namun karena tidak hafal liriknya.

Menolaknya Prabowo menyanyi di panggung bareng Nissa tersebut lantaran capres 02 itu tak pandai bersenandung dengan lirik Islami. Ini menunjukkan dirinya memang asing dengan hal yang bersangkutan dengan keislaman. 

Ada beberapa alasan, namun yang jelas Prabowo takut lafaznya salah. Itu muncul dari kesadaran bahwa Prabowo memang tak pernah bershalawat.

Padahal, bernyanyi bersama Nissa Sabyan merupakan kesempatan bagi Prabowo untuk unjuk kebolehan dalam berbahasa Arab. Sebab, sambung dia, selama ini banyak yang membela bahwa Prabowo mahir berbahasa Arab.

Bagaimanapun, Prabowo adalah sosok yang tidak islami. Meski sudah dipoles seperti apapun, dia memang bukan seorang yang taat beragama. 

Oleh karena itu, kita tak perlu percaya bila Prabowo disebut sebagai pembela umat Islam.